Social Icons

twitterfacebookgoogle pluslinkedinrss feedemail

Pages

Sabtu, 14 Desember 2013

Article Race

Iseng-iseng ikut lomba bikin artikel di Pekan Mahasiswa STAN Balikpapan 2013. Here it is!

Coretan Pengalaman di Balikpapan
Tak terasa sudah tiga bulan tinggal di Balikpapan, jauh dari keluarga, jauh dari saudara, jauh dari sahabat dan 'dipaksa' hidup secara mandiri. Pengorbanan yang tidak sedikit bagi kami-kami ini yang mereka sebut sebagai calon punggawa Kementerian Keuangan. Apalagi, ini  mungkin pengalaman pertama bagi sebagian besar mahasiswa unuk tinggal jauh dari keluarga tercinta. Tak ada pencapaian tanpa pengorbanan, mungkin itulah kutipan yang pas untuk kami. Menuntut ilmu di tanah orang tidak menyurutkan semangat kami untuk mencapai sebuah pencapaian. Tidak muluk-muluk, pencapaian kami yang utama ialah membahagiakan kedua orang tua di kampung sana. Semoga semangat kami ini tidak luntur sampai 9 bulan lagi dan lulus dari Balai Diklat Keuangan.
Kegiatan Belajar di Kampus
            Orang Balikpapan jika kita tanya dimana kampus STAN atau Balai Diklat Keuangan mungkin bingung dan cenderung tidak tahu. Apa karena memang baru dibangun atau letaknya yang berada di wilayah jarang penduduk, saya pun tidak tahu. Hanya saja saat pertama kali datang kesan ‘asing’ itu ada. Tapi, setelah memasuki Balai Diklat Keuangan atau BDK ternyata sungguh wah fasilitasnya. Tak heran pula saya karena BDK lah yang mengelola keuangan negara, pastinya memiliki fasilitas yang memadai.
            Kegiatan selama di kampus tidak jauh berbeda dengan di tempat lain. Hanya saja karena ini dibawah suatu lembaga atau disebut BPPK, kami dituntut harus disiplin. Bahkan, dengan begitu mengutamakannya kedisipilinan, kami ditempa di Dodikjur bersama tentara selama tiga hari. Tak hanya disiplin, disana kami juga ditempa jiwa dan mental agar menjadi pribadi yang nasionalis. Hal ini berkaitan dengan pekerjaan kami nantinya sebagai pengabdi negara. Tentu ini bukan hal yang main-main. Kementerian Keuangan pasti tidak mau menerima punggawanya yang tidak disiplin. Hal inilah yang selama ini ditunjukkan selama kami di BDK. Mulai baris-berbaris masuk ke BDK hingga keluar dari BDK, mengucapkan salam hormat kepada karyawan BDK, dan sebagainya. Awalnya memang sulit dijalani, terkesan ribet dan kaku bagi kami yang tidak terbiasa dengan hal-hal berbau seperti itu. Namun lama-kelamaan sudah menjadi kebiasaan dan tidak sulit. Kebiasaan itu tidak hanya berlaku sekarang melainkan bisa dilakukan lagi di masa depan bahkan setelah kami keluar dari BDK.
            Bicara tentang kegiatan belajar di BDK, siapa sih yang tidak mau belajar di kelas BDK? Fasilitasnya lengkap full ac, kursi dan meja yang berkualitas punya, projector, microphone. Semua orang pun jika ditanyai pasti mau. Fasilitas-fasilitas yang sudah disediakan itu tentunya menjadi faktor pendukung proses belajar-mengajar di BDK dan bagi kami sebagai suntikan untuk lebih semangat belajar dan bukannya semangat untuk tidur tentunya. Dosen pengajar yang masuk memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lainnya. Ada yang santai ‘easy going’, serius, bahkan campur aduk antara santai dan serius. Tugas yang diberikan pun tidak sebanyak mereka-mereka diluar sana yang kuliah di Universitas Negeri. Namun, resiko itu tetap ada jikalau terlalu santai atau malas-malasan pun akan terancam DO. Inilah poin negatif dan positif masuk di ikatan dinas, di satu sisi masa depan sudah terjamin dan pekerjaan sudah pasti didapat sementara di sisi yang lain jika kita tidak serius maka siap-siaplah ‘ditendang’ dari Kementerian Keuangan.
            Hubungan antara dosen pengajar dan mahasiswa nampaknya sudah terjalin baik. Mahasiswa sudah mengenal baik dosennya begitu pula sebaliknya. Siapa sih yang tidak kenal dengan pak Sony yang gemar joget ‘Making Melody’? Atau sekarang yang lagi tren senam ‘Yang Iya iyalah? Dan siapa yang tidak kenal pak Syahrul dengan rumus statistika yang bejibun itu? Tentulah mahasiswa mengenal baik dosennya dan juga karakteristiknya. Mungkin kami ini sudah menganggap dosen-dosen itu sebagai orang tua asuh kami karena merekalah yang dapat menuntun dan membimbing kami sebagai wakil orang tua kami sendiri. Sudah barang tentu kami berharap bahwa hubungan baik dengan dosen ini bisa terjaga sampai kami lulus dan memberi nilai yang sedap di pandang mata pada kami.

Suka Duka di Balikpapan
            Balikpapan, kota yang dikenal orang dengan sebutan ‘Kota Minyak’ menjadi tempat rantauan kami selama 1 tahun ini. Orang Jawa yang pindah kesini pasti kaget dengan keadaan kota ini. Bukan kaget karena keindahannya melainkan karena biaya hidup disini tergolong sangat mahal. Mereka yang biasanya terbiasa dengan biaya hidup yang murah Beruntung lah mereka yang dari Kalimantan sama seperti saya karena sudah terbiasa dengan hal ini, tetapi teman-teman kami yang dari Jawa cukup kewalahan dan terpaksa menghemat pengeluarannya.
            Waktu awal pertama mengelilingi kota Balikpapan, memang agak ada sedikit perbedaan dengan kota lain. Bersih dan tata ruang yang teratur merupakan kesan pertama yang didapat dari kota ini. Orang pendatang seperti saya dibuat betah dan nyaman tinggal disini. Selain itu, tidak ada kemacetan yang layaknya terjadi di kota-kota besar. Seolah-olah orang yang tinggal disini adalah orang yang berpenghasilan cukup. Tidak pernah pula saya melihat ‘gepeng’ atau preman yang mangkal di sudut lampu merah.  Sepertinya memang tidak terjadi kesenjangan sosial antara ‘Si Kaya’ dan ‘Si Miskin’ disini.
            Apapun itu suka atau duka yang kami alami, kami harus melewati itu semua. Toh dengan ditempatkan disini, kami bisa menambah pengalaman baru yang tidak bisa kami dapatkan sebelumnya. Bisa dapat teman dan sahabat baru dari daerah yang berbeda-beda. Bisa jadi mandiri tidak bergantung kepada orang tua di kota asal kami sendiri. Semoga kami bisa menjadi pribadi yang lebih baik untuk mendapatkan hidup yang lebih sempurna. Amin.

Writer : Muhammad Naufal Dirgamahdy
Bea Cukai B
@NaufalNagato

Tidak ada komentar:

Posting Komentar