Iseng-iseng ikut lomba bikin artikel di Pekan Mahasiswa STAN Balikpapan 2013. Here it is!
Suka Duka di Balikpapan
Writer : Muhammad Naufal Dirgamahdy
Coretan Pengalaman di Balikpapan
Tak terasa sudah tiga bulan tinggal
di Balikpapan, jauh dari keluarga, jauh dari saudara, jauh dari sahabat dan
'dipaksa' hidup secara mandiri. Pengorbanan yang tidak sedikit bagi kami-kami
ini yang mereka sebut sebagai calon punggawa Kementerian Keuangan. Apalagi,
ini mungkin pengalaman pertama bagi
sebagian besar mahasiswa unuk tinggal jauh dari keluarga tercinta. Tak ada
pencapaian tanpa pengorbanan, mungkin itulah kutipan yang pas untuk kami.
Menuntut ilmu di tanah orang tidak menyurutkan semangat kami untuk mencapai sebuah
pencapaian. Tidak muluk-muluk, pencapaian kami yang utama ialah membahagiakan
kedua orang tua di kampung sana. Semoga semangat kami ini tidak luntur sampai 9
bulan lagi dan lulus dari Balai Diklat Keuangan.
Kegiatan Belajar di
Kampus
Orang Balikpapan jika kita tanya dimana kampus STAN atau Balai Diklat
Keuangan mungkin bingung dan cenderung tidak tahu. Apa karena memang baru
dibangun atau letaknya yang berada di wilayah jarang penduduk, saya pun tidak
tahu. Hanya saja saat pertama kali datang kesan ‘asing’ itu ada. Tapi, setelah
memasuki Balai Diklat Keuangan atau BDK ternyata sungguh wah fasilitasnya. Tak
heran pula saya karena BDK lah yang mengelola keuangan negara, pastinya
memiliki fasilitas yang memadai.
Kegiatan
selama di kampus tidak jauh berbeda dengan di tempat lain. Hanya saja karena
ini dibawah suatu lembaga atau disebut BPPK, kami dituntut harus disiplin.
Bahkan, dengan begitu mengutamakannya kedisipilinan, kami ditempa di Dodikjur
bersama tentara selama tiga hari. Tak hanya disiplin, disana kami juga ditempa
jiwa dan mental agar menjadi pribadi yang nasionalis. Hal ini berkaitan dengan
pekerjaan kami nantinya sebagai pengabdi negara. Tentu ini bukan hal yang
main-main. Kementerian Keuangan pasti tidak mau menerima punggawanya yang tidak
disiplin. Hal inilah yang selama ini ditunjukkan selama kami di BDK. Mulai
baris-berbaris masuk ke BDK hingga keluar dari BDK, mengucapkan salam hormat
kepada karyawan BDK, dan sebagainya. Awalnya memang sulit dijalani, terkesan
ribet dan kaku bagi kami yang tidak terbiasa dengan hal-hal berbau seperti itu.
Namun lama-kelamaan sudah menjadi kebiasaan dan tidak sulit. Kebiasaan itu
tidak hanya berlaku sekarang melainkan bisa dilakukan lagi di masa depan bahkan
setelah kami keluar dari BDK.
Bicara
tentang kegiatan belajar di BDK, siapa sih yang tidak mau belajar di kelas BDK?
Fasilitasnya lengkap full ac, kursi dan meja yang berkualitas punya, projector,
microphone. Semua orang pun jika ditanyai pasti mau. Fasilitas-fasilitas yang
sudah disediakan itu tentunya menjadi faktor pendukung proses belajar-mengajar
di BDK dan bagi kami sebagai suntikan untuk lebih semangat belajar dan bukannya
semangat untuk tidur tentunya. Dosen pengajar yang masuk memiliki kepribadian
yang berbeda satu sama lainnya. Ada yang santai ‘easy going’, serius, bahkan
campur aduk antara santai dan serius. Tugas yang diberikan pun tidak sebanyak
mereka-mereka diluar sana yang kuliah di Universitas Negeri. Namun, resiko itu
tetap ada jikalau terlalu santai atau malas-malasan pun akan terancam DO. Inilah
poin negatif dan positif masuk di ikatan dinas, di satu sisi masa depan sudah
terjamin dan pekerjaan sudah pasti didapat sementara di sisi yang lain jika
kita tidak serius maka siap-siaplah ‘ditendang’ dari Kementerian Keuangan.
Hubungan
antara dosen pengajar dan mahasiswa nampaknya sudah terjalin baik. Mahasiswa
sudah mengenal baik dosennya begitu pula sebaliknya. Siapa sih yang tidak kenal
dengan pak Sony yang gemar joget ‘Making Melody’? Atau sekarang yang lagi tren
senam ‘Yang Iya iyalah? Dan siapa yang tidak kenal pak Syahrul dengan rumus
statistika yang bejibun itu? Tentulah mahasiswa mengenal baik dosennya dan juga
karakteristiknya. Mungkin kami ini sudah menganggap dosen-dosen itu sebagai
orang tua asuh kami karena merekalah yang dapat menuntun dan membimbing kami
sebagai wakil orang tua kami sendiri. Sudah barang tentu kami berharap bahwa
hubungan baik dengan dosen ini bisa terjaga sampai kami lulus dan memberi nilai
yang sedap di pandang mata pada kami.
Suka Duka di Balikpapan
Balikpapan,
kota yang dikenal orang dengan sebutan ‘Kota Minyak’ menjadi tempat rantauan
kami selama 1 tahun ini. Orang Jawa yang pindah kesini pasti kaget dengan
keadaan kota ini. Bukan kaget karena keindahannya melainkan karena biaya hidup
disini tergolong sangat mahal. Mereka yang biasanya terbiasa dengan biaya hidup
yang murah Beruntung lah mereka yang dari Kalimantan sama seperti saya karena
sudah terbiasa dengan hal ini, tetapi teman-teman kami yang dari Jawa cukup
kewalahan dan terpaksa menghemat pengeluarannya.
Waktu awal
pertama mengelilingi kota Balikpapan, memang agak ada sedikit perbedaan dengan
kota lain. Bersih dan tata ruang yang teratur merupakan kesan pertama yang
didapat dari kota ini. Orang pendatang seperti saya dibuat betah dan nyaman
tinggal disini. Selain itu, tidak ada kemacetan yang layaknya terjadi di
kota-kota besar. Seolah-olah orang yang tinggal disini adalah orang yang
berpenghasilan cukup. Tidak pernah pula saya melihat ‘gepeng’ atau preman yang
mangkal di sudut lampu merah. Sepertinya
memang tidak terjadi kesenjangan sosial antara ‘Si Kaya’ dan ‘Si Miskin’
disini.
Apapun itu
suka atau duka yang kami alami, kami harus melewati itu semua. Toh dengan
ditempatkan disini, kami bisa menambah pengalaman baru yang tidak bisa kami
dapatkan sebelumnya. Bisa dapat teman dan sahabat baru dari daerah yang
berbeda-beda. Bisa jadi mandiri tidak bergantung kepada orang tua di kota asal
kami sendiri. Semoga kami bisa menjadi pribadi yang lebih baik untuk
mendapatkan hidup yang lebih sempurna. Amin.
Writer : Muhammad Naufal Dirgamahdy
Bea Cukai B
@NaufalNagato






Tidak ada komentar:
Posting Komentar