| Ekspresi Francesco Totti usai menutup paruh pertama musim ini dengan kekalahan telak di kandang Napoli, 6 Januari 2013 (Sumber foto: ROBERTO SALOMONE/AFP/Getty Images) |
Sejak Serie A menambah peserta kompetisi menjadi 20 klub pada musim 2004-2005, hasil setelah pekan ke-19 adalah anak tangga penentu, apakah terus naik ke puncak atau terjun bebas di akhir musim. Juara paruh musim (campeon de inverno) setelah masing-masing klub telah berlaga menghadapi seluruh peserta kompetisi, seringkali menjadi barometer klub mana yang mengangkat trophy juara nanti setelah seluruh 38 laga diselesaikan oleh masing-masing klub.
Saya tidak bermaksud menuliskan prediksi klub mana yang juara Serie A musim ini, tetapi hanya berbagi catatan sejarah atas apa yang telah diraih AS Roma sepanjang 9 musim terakhir. Tentang apa yang dicapai di paruh musim dan seberapa tinggi peringkat di akhir musim. Juga saya bandingkan dengan prestasi Zeman saat melatih Roma selama 2 musim 1997-1999. Mari kita mulai dari pencapaian 9 musim yang lalu.
Musim 2004-2005
Setelah musim sebelumnya finis runner-up scudetto, Roma terseok-seok di paruh pertama musim 2004/2005 dengan terpaku di posisi 7 klasemen dengan hanya meraih poin 27 dari hasil 7 kemenangan, 6 kali seri dan 6 kekalahan. Mencetak 35 gol tetapi kebobolan 29 gol.
Apa yang terjadi di paruh kedua? Roma hanya menambah 4 kemenangan, malahan menderita 9 kekalahan tambahan, hanya menambah 20 gol tetapi kemasukan 29 gol lagi sehingga finis dengan deficit 3 gol dan terpaku di posisi 8 dengan poin 45. Jadi Giallorossi hanya menambah 18 poin di paruh kedua.
Musim 2005-2006
Roma masih terseok-seok di paruh pertama musim 2005/2006 di posisi 6 klasemen dengan hanya meraih poin 30 dari hasil 8 kemenangan, 6 kali seri dan 5 kekalahan. Mencetak 29 gol tetapi kebobolan 20 gol.
Di paruh kedua Roma sedikit lebih baik dengan menambah 11 kemenangan, dan hanya 2 kali kalah. Roma juga lebih garang dengan 41 gol tambahan meski tetap kebobolan 22 gol sehingga surplus 28 gol di akhir musim. Sayangnya perjuangan tersebut tak berhasil banyak bagi posisi akhir klasemen, Roma finis ke-5 dengan raihan 39 poin tambahan di paruh kedua.
Musim 2006-2007
Setelah dua musim terseok-seok, Roma langsung tancap gas di paruh pertama musim 2006/2007 dengan meraih 13 kemenangan, 3 kali imbang dan hanya 3 kali kekalahan. Mencetak 41 gol dan hanya kebobolan 16 gol sehingga surplus 25 gol. Posisi langsung di garis pesaing juara yakni ke-2 dengan poin 42.
Sayangnya di paruh kedua Roma sedikit mengendor dengan hanya menambah 9 kemenangan, 6 seri dan malah 4 kali kalah. Roma juga hanya menambah 33 gol dan kemasukan 18 gol sehingga surplus 40 gol. Dengan tambahan hanya 33 poin, Roma tetap finis di belakang sang juara Inter dengan poin 75. Dengan total 22 kemenangan Roma kalah jauh dari Inter yang meraih total 30 kemenangan. Tapi musim itu Roma luar biasa!
Musim 2007-2008
Roma mempertahankan kegarangannya di paruh pertama musim 2007/2008. Dengan 12 kemenangan dan hanya sekali kalah Roma kokoh di posisi ke-2 lagi-lagi di belakang Inter. Roma mencetak 37 gol dan kemasukan 19 gol dengan raihan poin 42. Poin ini sama persis dengan separuh musim sebelumnya.
Di paruh kedua Roma tetap garang dengan 12 kemenangan tetapi 3 kali kalah sehingga hanya maksimal meraih 40 poin tambahan. Roma menambah 35 gol dan kebobolan 18 gol sehingga surplus 35 gol di akhir musim. Roma hanya selisih 3 poin dari sang juara Inter. Musim yang menegangkan!
Musim 2008-2009
Setelah dua musim berturut-turut nyaris juara, Roma malah patah semangatnya di paruh pertama musim 2008/2009. Hanya 9 kemenangan dan 7 kali kalah, mencetak 26 gol tapi kebobolan 25 kali, Roma tercecer ke posisi 8 dengan raihan 30 poin.
Di paruh kedua juga Roma tidak berubah banyak. Tetap meraih 9 kemenangan, 6 hasil seri dan 4 kali kalah, Roma hanya menambah 33 poin sehingga finis di posisi 6 dengan 63 poin. Musim itu Roma meraih koefisien gol yang mengerikan: mencetak 64 gol tapi kebobolan 61 gol, hampir sama dengan tim-tim yang terdegradasi ke Serie B.
Musim 2009-2010
Roma mengawali musim 2009/2010 dengan hasil tanggung. Meraih 9 kemenangan, 5 hasil seri dan kalah 5 kali sehingga poin hanya 32 dengan posisi cukup baik di peringkat ke-5. Roma mencetak 30 gol dan kebobolan 24 kali.
Pada paruh kedua barulah serigala menunjukkan taringnya. Roma nyaris tak tertahankan dengan 15 kemenangan, 3 seri dan hanya 1 kali kalah. Roma mencetak 38 gol dan hanya kebobolan 17 kali sehingga surplus 27 gol di akhir musim. Roma berhasil meraih 48 poin maksimal sehingga finis dengan poin 80. Sayang sekali Inter memiliki hasil imbang 2 kali lebih baik sehingga finis juara hanya 2 poin di atas Giallorossi. Roma sebenarnya sudah bikin tifosi Inter gugup karena merebut capolista di pekan ke-34 tetapi kekalahan di Olimpico dari Sampdoria di pekan ke-35 membuat Roma tercecer kembali ke posisi runner-up. Itu adalah kekalahan satu-satunya di paruh kedua musim itu.
Musim 2010-2011
Setelah nyaris juara musim sebelumnya, Roma kurang semangat di paruh pertama musim 2010/2011. Hasilnya sama persis dengan paruh pertama musim sebelumnya, hanya beda jumlah gol yang lebih sedikit 3 gol dari paruh pertama musim sebelumnya. Tetap posisi 5 dengan poin 32. Kebetulan yang sama!
Paruh kedua yang beda. Roma tak mengulangi lagi kegarangan paruh kedua musim sebelumnya. Roma tetap meraih hasil yang hampir sama dengan separuh pertama, yakni 9 kemenangan, 4 hasil seri dan 6 kali kalah. Tentu saja hasil tersebut lebih buruk, meski Roma mencetak lebih banyak gol yakni 32 gol tapi kebobolan 4 kali lebih banyak. Roma finis di posisi ke-6 dengan 63 poin.
Musim 2011-2012
Musim 2011/2012 Roma penuh optimism di awal musim dengan kehadiran pelatih baru Luis Enrique yang membawa filosofi Barcelona ke Trigoria. Tapi hasilnya malah lebih jelek dari paruh pertama musim sebelumnya. Roma meraih 9 kemenangan, 4 seri dan 6 kekalahan. Mencetak 29 gol dan kebobolan 21 gol. Roma tercecer di posisi ke-6 dengan 31 poin.
Paruh kedua malah lebih jelek. Roma hanya meraih 7 kemenangan, tetap 4 hasil seri tetapi menderita 8 kekalahan. Roma mencetak 31 gol tetapi kebobolan 33 gol sehingga hanya surplus 6 gol di akhir musim. Dengan tambahan hanya 25 poin Roma finis di posisi ke-7 dengan total 56 poin. Roma terlempar dari jatah kompetisi Eropa dan itu juga alasan manajemen melempar Enrique keluar dari markas Trigoria.
Musim 2012-2013
Paruh pertama musim ini, Roma kembali dengan optimisme baru sejak kedatangan Zdenek Zeman. Roma tampil subur dengan mencetak 40 gol, hanya kalah 1 gol saja dari jumlah gol paruh pertama musim 2006/2007 saat Roma finis ke-2. Tetapi Roma juga kebobolan 33 gol, jumlah kebobolan terbanyak di paruh musim sejak Serie A berjumlah 20 klub.
Secara poin dan posisi klasemen, Zemanlandia juga hampir sama persis dengan prestasi Enrique musim lalu. Roma 10 kali menang, 2 kali imbang, dan 7 kali kalah. Poin yang terkumpul hanya 32 dan tercecer di posisi ke-6 di luar zona Eropa. Tetangga klub Lazio malah unggul 7 poin dan berada di baris terdepan bersaing dengan juara bertahan Juventus.
Zemanlandia mengulang sejarah?
Hasil paruh pertama musim ini nyaris sama dengan raihan Roma pada beberapa musim sebelumnya. Dan di akhir musim, hasil Roma tak beda jauh dengan hasil paruh pertama. Bahkan hasil ini hampir sama dengan raihan Zeman saat melatih Roma pada musim 1997/1998 dan 1998/1999. Mari kita simak catatan berikut.
Musim 1997-1998
Pada saat itu kompetisi Serie A masih diikuti 18 klub sehingga paru pertama musim adalah hasil setelah 17 laga. Roma tercecer ke posisi 8 dengan meraih poin 26 dari kemungkinan maksimal 51 poin. Jika dihitung secara persentase, raihan poin Roma adalah 50,98%.
Di paruh kedua pasukan Zeman tancap gas dengan meraih 33 poin tambahan dari kemungkinan 51 poin, sehingga koefisien Roma di paruh kedua menjadi 64,71%. Raihan 10 kemenangan, 3 seri dan 4 kalah di paruh kedua itu membuat Roma sanggup naik ke posisi ke-4 di akhir musim dengan 59 poin atau tertinggal 15 poin dari juara Juventus musim itu.
Musim 1998-1999
Pada paruh pertama musim 1998/1999 Zeman tidak melanjutkan terkaman serigala di semester pertama tahun 1998. Roma malah kembali start seperti paruh pertama musim sebelumnya dengan hanya meraih poin 27 dari kemungkinan maksimal 51 poin, sehingga koefisien Roma menjadi 52,94%. Roma ada di posisi ke-5 klasemen paruh musim.
Di paruh kedua Zeman tak berhasil banyak. Roma malah 6 kali kalah sehingga meski menang 8 kali tetap saja poin yang diraih cuma 27. Maka di akhir musim posisi Roma persis sama, tetap di posisi ke-5 dan poin 54.
Prediksi paruh kedua musim ini?
|
Nah, bagaimana dengan koefisien Zeman musim ini? Zeman meraih 32 poin dari kemungkinan 57 poin sehingga koefisiennya menjadi 56,14%. Jika Zeman mengulangi tren bagus pada paruh kedua musim 1997/1998 maka Roma akan meraih maksimal 37 poin di paruh kedua musim 2012-2012 ini. Dan posisi Roma di akhir musim bisa naik 4 anak tangga ke posisi runner-up.
Bagaimana jika Roma mengulangi spirit 2009/2010? Saat itu di paru kedua Roma sukses meraih 48 poin dari kemungkinan 57 poin sehingga koefisien menjadi 84,21%. Jika itu yang berhasil terulang kembali, maka poin Roma bisa kembali mencapai 80 di akhir musim. Meski demikian, apabila Juventus mempertahankan koefisien musim ini maka di akhir musim Juventus tetap Scudetto dengan perkiraan poin 88, dan Roma mungkin cukup puas sebagai runner-up.
Mari berharap pasukan Zeman lebih garang di paruh kedua, sebab jika tidak Roma bakal kembali finis di luar jatah Eropa pada akhir musim nanti. Forza Roma!
***
Sumber data: http://www.worldfootball.net/teams/as-roma
Copas : http://olahraga.kompasiana.com/bola/2013/01/11/histori-separuh-musim-giallorossi-518569.html (Fian Paju)






Tidak ada komentar:
Posting Komentar